Mencintai diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan atribut dalam hidup ini memang susah-susah, gampang-gampang. Wong belajar mencintai diri sendiri aja sebenarnya cukup menantang. Mari kita kupas sedikit-sedikit ya. Coba perhatikan; berapa banyakkah orang memutuskan untuk menjadi trendsetter atau follower. Sebenarnya nggak ada masalah, mau menjadi trendsetter atau follower, karena ternyata ada sebagian orang yang memandang bahwa hidup ini adalah proses, ada juga yang memandang bahwa hidup haruslah “result oriented”, hasil harus real, nyata dan ada juga yang menggabungkan keduanya. Rasa-rasanya seh nggak ada yang salah dengan pilihan-pilihan itu, toh inilah yang membuat cerita hidup jadi makin seru. Apapun pilihannya, semoga pilihan itu selalu mendekatkan kita pada Allah SWT. Aamiin.
Lalu apa hubungannya dengan mencintai diri sendiri? Mencintai diri sendiri di sini sebenarnya lebih dimaksudkan kepada penerimaan atas diri sendiri, atas keadaan/kondisi, strenght and weakness, begitupun juga kejadian dan sejarah dalam hidup. Kita sebut saja self acceptance ya. Harapannya, dengan menerima diri kita sendiri sepenuhnya kita bisa selalu bersyukur kepada Allah, Sang Pencipta. Begitu luar biasanya perjalan hidup kita, sejak dari kandungan bunda hingga saat ini. Begitu Maha Pemurah Allah, kita nggak dikasih PR, besok bangun pagi kalau mau nafas, harus beli oksigen di mana, juga sewaktu kita masih dikandungan, food supply selalu siap, 1 X 24 jam nonstop. Cerita hidup yang jatuh bangun seharusnyalah menjadi penyemangat pagi untuk lebih baik setiap harinya.
Self acceptance akan menjadi obat buat yang kurang percaya diri, karena tahu bahwa setiap manusia punya strenght and weakness, itu juga berlaku buat dirinya sendiri. Self acceptance juga akan membuatnya bersahabat baik dengan dirinya sendiri, sehingga tidak perlu extra tenaga untuk “berperang” dengan diri sendiri karena merasa tidak pernah puas atas dirinya, atas hidupnya. Padahal masa lalu adalah sejarah. Berapa banyak diantara kita yang tiba-tiba jadi ahli sejarah? Kita muter-muter aja dengan sejarah masa lalu kita, seperti gasing yang diputer. Habis energi terkuras mikir yang mubazir. Padahal sejarah itu hari kemarin. Ada hari ini agar bisa lebih baik dari kemarin. Bukankah hidup bahagia sangat tergantung dari sudut mana kita memandang hidup itu sendiri? Seberapa besar usaha kita untuk selalu bersyukur?
Percayalah, apapun yang kita miliki sekarang adalah hadiah yang terbaik untuk kita. Terimalah itu sebagai modal untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas menuju sukses untuk dunia akhirat.
Tidak mudah untuk memulai, tapi selama kita selalu bersemangat untuk meraih kualitas hidup lebih baik, insya Allah semuanya bisa dilakukan. So, mari mulai dari diri sendiri dan mulai hari ini.
Tetap semangat!

No comments:
Post a Comment