Tuesday, 19 April 2011

(inspirasi) cerita seorang teman. true story

22 Desember 2010 – Kuseka debu-debu tipis di tulisan namanya, nisan ibuku yang meninggal 40 hari lalu. Hari ini, yang juga bertepatan dengan Hari Ibu, aku mengunjungi makamnya. Makam ibu masih terlihat cukup bersih, meski rumput-rumput sudah mulai banyak tumbuh di sekitarnya. Dengan posisi setengah duduk, kutaburkan bunga lalu menengadahkan kedua tangan seraya mengucap doa dalam hati. Sesekali air mata membasahi pipi. Cuaca mulai gerimis, aku segera bangkit dan mengambil langkah pulang. Hujan mengaburkan sisa air mata di wajahku.

Dalam perjalanan pulang aku teringat kejadian sebelum ibuku meninggal hingga saat-saat terakhir aku berada di sampingnya. Ibuku, wanita cantik berperawakan sedang, sudah sejak kecil menderita asma, penyakit yang hingga dewasa kerap kali dirasakannya. Beberapa bulan terakhir penyakit ini semakin parah dan terkomplikasi. Ibu sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit.

Dan sepertinya Tuhan memberi tanda kepada kami dan ibuku akan batas usianya yang semakin dekat. Beberapa orang dekat tiba-tiba datang khusus untuk meminta maaf kepada ibuku, bahkan sebelum terakhir ia dibawa ke rumah sakit, ibuku menyempatkan diri bertemu dan meminta maaf ke hampir semua orang, tetangga dekat rumah, sanak famili, bahkan teman-teman yang masih mampu ia hubungi. Aku rasa ini cara ibuku untuk melancarkan sendiri jalannya, pulang ke rumah Sang Maha Pencipta tanpa beban. Dan beruntunglah orang-orang yang diberi kesempatan seperti dia, karena tak semua orang mampu mendapatkannya, kata maaf kadang hanya tersimpan dalam hati, tanpa pernah punya arti, hilang ketika mati.

Hari terakhir di rumah sakit, beberapa kerabat datang menjenguk, dan aku, tetap setia berada di sampingnya. Ayah terlihat membisikkan sesuatu ke telinga ibu, sebuah percakapan terakhir untuk sang kekasih. Dan meski berada dalam kondisi koma, ibuku masih sempat menggerakkan jarinya, tanda bahwa ia masih mampu mendengar, pun air mata mengalir dari lelap matanya, sebuah perpisahan haru pun terjadi. Denyut jantungnya tak lagi tampak bergerak di layar monitor, hanya garis panjang, mengantarnya ke hidup yang lebih panjang, selamanya. Waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 14.40, hening itu terjadi.

Tak berapa lama, adzan ashar mengalun, turut mengantar kepergian ibu, namun tangisan belum cukup mampu diredakan. Segera aku tunaikan kewajiban sholat. Keluargaku termasuk taat menjalankan ibadah, setidaknya orang tuaku mengajarkanku demikian, dan ibuku sangat disiplin mendidik anak-anaknya akan itu. “Ibu tidak mau melihat anak-anak ibu lalai menjalankan sholat..” begitu pesan ibuku yang selalu kuingat.

Waktu pun berselang, suatu hari aku mendatangi kamar almarhumah ibuku. Kamar ini memiliki begitu banyak kenangan, aku memperhatikan barang-barang miliknya yang masih berada di posisi yang sama seperti sebelum dia meninggal. Salah satu yang menarik perhatianku adalah sebuah lemari besar di sudut kamar. Di dalamnya terdapat beberapa tas miliknya, aku memeriksa salah satunya. Di dalam tas kulihat ada sebuah surat tersimpan rapih. Penasaran, aku buka surat itu. “Kepada anakku tersayang, Adelia...” ada nama adikku di sana, pastinya surat ini ditujukan untuknya, entah dia sudah membacanya atau belum. Kami adalah tiga bersaudara, adikku paling bungsu dan masih duduk di bangku SMA, wajar bila ibu memberi perhatian khusus untuknya lewat surat itu. Aku terpaku cukup lama membacanya, sekaligus terharu. Aku rasa ibu sudah mempersiapkan surat itu cukup lama dan menyembunyikannya di tas tersebut. Dari uraian panjang surat itu, ada bagian yang menurutku paling penting, yaitu: “Jangan terlalu larut dalam kesedihan, pahamilah, hidup tak sesempurna yang kau bayangkan..”, sebuah nasehat terakhir ibu untuk anak bungsunya agar bisa belajar ikhlas, dalam sebuah surat yang belum sempat tersampaikan.

Dua minggu kemudian, aku kembali mendatangi kamar ibu, melihat lemari yang sama. Lemari itu bersekat, ada bagian-bagian yang terlewat dari perhatianku sebelumnya. Kali ini aku penasaran dengan tas lain di lemari itu. Kebetulan ibu mempunyai beberapa koleksi tas meski tak sering ia gunakan. Di salah satu tas, aku menemukan sebuah sebuah arloji milik ibuku. Arloji terakhir yang ia pakai, dan kini sudah tak lagi berfungsi, mungkin baterainya sudah kehilangan daya. Dan aku tercengang memperhatikan bagian depannya, dua jarum yang ditunjukkan arloji itu: jam 2 lewat 40 menit, mirip dengan waktu meninggalnya ibu: pukul 14.40. Tapi aku menganggapnya sebagai kebetulan belaka. Tak ada yang menarik dari dua angka itu pikirku.

Perhatianku tak berhenti sampai di situ, kulihat ada tas lain di sana. Aku menemukan arloji lain di dalam tas tersebut. Arloji yang sudah lama tak ia gunakan. Dan aku sangat kaget begitu melihat ada kesamaan persis seperti arloji sebelumnya. Jarum jam yang menunjukkan jam 2 lewat 40 menit, 14.40. Kali ini aku tak mengabaikannya, 2 arloji peninggalan ibuku tak mungkin disengajakan menunjuk angka yang sama, waktu dimana ia meninggal. Aku merasa ada semacam tanda dari angka-angka tersebut, merujuk pada suatu pesan.

Cukup lama aku mencoba menebak arti angka-angka itu. Sampai akhirnya kutemukan sebuah Al-Quran di atas meja, aku mencoba mengaitkannya dengan surat dan ayat di dalamnya. Surat 14, ayat 40. Lembar demi lembar kubalik untuk mencari ayat tersebut. Aku lalu menghela nafas panjang, terkejut begitu mendapati isi ayat dari pilihan angka tersebut, dengan lirih kubaca ayat tersebut:

QS. Ibrahim (14) : 40
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”

Singkat tapi bermakna dalam. Ayat tersebut adalah doa Nabi Ibrahim untuk anak-anaknya. Sama seperti pesan yang selalu ibu ingatkan kepada kami. Doa yang selalu khusuk ia panjatkan di penghujung sholatnya, tidak hanya untuknya, tapi juga untuk kami. Ia ingin anak-anaknya senantiasa diberi ingat yang tak terbatas dalam menjalankan ibadah. Semacam sepasang sayap yang ia tinggalkan untuk kami, agar mampu mengantarkan kami terbang ke tempat terbaik, melewati jalan yang disediakan oleh-Nya. Sepasang sayap yang telah lebih dulu mengangkatnya ke surga, dan kini ia tanggalkan untuk kami di sini. Sepasang sayap yang kelak mempertemukan kami kembali, aku dan ibuku. Selamat jalan ibu, doaku menyertaimu.

No comments:

Post a Comment