Yang di bawah umum dipahami sebagai tempatnya kehinaan. Bawah juga menjadi penunjuk sesuatu yang rendah. Sehingga, dalam berbagai bahasan tentang moral, orang-orang yang melakukan hal-hal yang amoral acap mendapat gelar sebagai manusia rendah.
Terkait gelar itu, kukira bukan orang-orang yang bersalah karena memberikan gelar demikian. Tetapi memang perbuatan itu sendiri yang menjadi ‘pembicara’ yang menyebut menusia pelakunya sebagai manusia rendah.
Dari berbagai berita, sering diceritakan tentang banyak lelaki yang berselingkuh untuk bisa memenuhi tuntutan yang di bawah. Logis, jika dia juga disebut manusia rendah. Sebab jelas bawah dan rendah itu selalu saja seperti senyawa. Maka, sepertinya jika saya sendiri yang menjadi pelaku atas suatu perbuatan rendah. Mutlak saya akui bahwa saya rendah. Setidaknya ini lebih membuka mata saya sendiri untuk melihat lebih jelas pada perbuatan rendah yang pernah saya lakukan. Dengan begini, layak dipercaya, lebih membuka peluang untuk bisa merubah kebiasaan rendah dengan kebiasaan baru yang lebih baik.
Tetapi di sini, saya ingin berbicara justru tentang hal yang menjadi kebalikan dari rendah yang baru saya sebut di atas. Meski tetap menggunakan kata yang serupa, bawah dan rendah. Karena teringat saat nimbrung di acara seminar Boost Your Potential sebagai bagian dari Tim Trainer–pendamping pembicara utama, bersama Ferdy Ferdyan dan Yudi Firdaus. Seminar yang bertempat di Pusdik BRI yang notabene pesertanya adalah karyawan BRI Bandung.
Ketika tiba pada sesi mengilustrasikan diri dalam gambar. Seorang peserta berwajah cukup maskulin diminta untuk juga mengpresentasikan gambarnya di depan peserta lain, seperti yang sudah dilakukan rekan-rekannya sesama peserta sebelumnya. Tetapi, justru lelaki muda ini menolak untuk ke depan. Setelah proses bujuk rayu beberapa menit, ia bersedia untuk presentasi, tetapi meminta untuk menyampaikan tanpa harus beranjak dari kursi yang ia duduki.
Mulai ia bicara,” Saya menggambar sapu. Iya karena saya kebetulan bekerja sebagai Office Boy di BRI. Nah, sapu ini yang setiap hari saya pegang. Dengan sapu, dari setiap ruang sampai halaman kantor bisa terlihat bersih dan enak di lihat. Itu kelebihan dari sapu, sekalipun ia bermain di lantai saja (baca; rendah). Selain itu, dengan sapu ini juga, kadang saya bisa menemukan uang yang jatuh. Tentu uang itu menjadi rejeki saya.” Ujarnya polos yang sontak disambut gelak tawa seisi ruangan lantai II Pusdik tersebut.
***
Yang di bawah. Mereka adalah orang yang memang harus diakui seringkali memiliki rasa malu melebihi orang-orang yang ‘kadung’ merasa diri tinggi. Namun begitu, dari sejak acara itu berjalan, meski terkadang tersenyum melihat peserta yang mengaku sebagai tukan sapu itu. Saya merasa mendapat pelajaran yang cukup berharga.
Iya, tentang kepantasan. Tidak dalam arti yang di bawah tidak berhak untuk bicara. Tidak juga untuk mengatakan bahwa hak bicara hanya layak untuk mereka yang berada di tempat tinggi saja. Melainkan, pilihan ia untuk melihat bahwa semua yang berada di sekelilingnya adalah orang-orang yang berharga, sehingga ia merasa diri tidak pantas, syahdan walau hanya sekedar untuk bisa bicara saja. Saya sendiri melihat itu bukan sebagai bentuk dari sikap rendah diri, justru itu menjadi gambaran tegas sikapnya yang rendah hati. Ia masih melihat pantas dan tidak pantas. Padahal kalau dilihat jernih, siapa saja juga berhak untuk bicara, apalagi ketika sudah diminta untuk bicara seperti itu. Berbeda dengan Office Boy ini, ia memilih menunjukkan sikap rendah hati dengan caranya seperti itu.
Untuk beberapa orang cerdas bisa jadi akan langsung mengatakan Office Boy ini bukan rendah hati, tapi benar-benar rendah diri. Sebab jelas dari semua bagian di kantornya cuma dia saja yang bekerja di tempat yang orang lain enggan untuk melakukannya. Lihat saja, siapa yang pernah bercita-cita untuk menjadi Office Boy? Siapa yang pernah bermimpi untuk menjadi jongos bin pesuruh? Tidak ada. Menjadi selera umum manusia menginginkan yang tinggi-tinggi saja. Di sini, saat merefleksikan diri sendiri, beruntung saya pribadi pernah melakukan banyak pekerjaan yang berada di bawah, tetapi saya wajib bela diri bahwa pekerjaan itu bukanlah rendah. Terbukti ketika masa kecil dengan enteng berteman dengan pemulung dan ikut menjadi pemulung. Bermain di sisa-sisa sampah.
Pun, orang-orang yang sering saya temui kala itu adalah orang-orang yang rendah hati juga. Beberapa dari rekan kecil sesama pemulung ketika itu merupakan anak-anak ornag berada juga. Salah satunya anak dari Kepala Kantor Pos kecamatan saya di Jeuram. Beberapa lainnya adalah anak pegawai negeri, anak pengusaha (walaupun pengusaha kilang padi). Di sana, saya menemukan pelajaran, betapa, dari bawah begitu banyak pendidikan yang diberikan alam untuk memupuk diri agar selalu ikhlas dengan semua yang sudah diberikan Tuhan dengan tetap melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan sebagai risalah hidup untuk bekerja (baca: berkarya).
Kesimpulannya, pelajaran hidup orang-orang besar yang pernah saya kenali juga berawal dari bermain di bawah. Tanpa perlu merasa malu, kecuali bila memang memang melakukan pekerjaan memalukan yang merendahkan nilai diri sebagai manusia.
No comments:
Post a Comment