Saturday, 30 July 2011

lukisan mimpi

Mata ana menerawang ke jalan di sebrang pintu'
Kemana gerangang suamiku belum kunjung datang?'
 dalam hatinya. Jam menunjukan sudah pukul 11 malam.
Biasanya suaminya pulang ga jakh dr pukul 8.30 malm.

Ana menyesali permintaanya yg terucp kemarin kpd suaminya.
Ia mengutarakan keinginanya untk memiliki sebuah radio.
Hanya sebuah radio, tanpa ada tapenya, suatu permintaan yg bagi sebgian orang lain bgt kdcil. Bagi ana,
sekdar radio aja udah membwt dirinya bhagia.
Ia merasakan sepi.ia sadar bhwa ia miskin.tapi bolehlah ia meminta kpd swminya,
permintaan yg kecil. Hanya sebuah radio untk menemaninya sepanjang hari.)
Tapi begtu ana melihat mimik swminya yg tampak seperti menelan ludah,

ana menutupnya dgn ucpan ' sudahlah mas, sy kan cm mengutarakan keinginan saya saja.
 Kalu ndak ada, ya ndak usah dipaksakan.
'
Hatinya kembali berbisik,
'apakah karena permintaan sy, swmi sy blm pulang. . .' ia menyalahkan dirinya.

Tidak lama swminya pulang.
'pulang telat mas?'. . Tanyanya sambil menyodorkan secangkir teh panas yg dibuatnya.

'saya jaln kaki. . .' jawabnya pelan, sambil menyerahkan uang yg didapatnya hr ini. ' ini ditabung . . .
'
Beberapa lembar recehan seribuan di pegang ana.
Ana skarang tahu knpa swaminya terlambt pulang.

Karena suaminya berjalan kaki. Jalan kaki untuk bisa menabung. Dan menabung untuk bisa membeli radio.
 Ana menangis.ia bilang 'mas,engga usah maksain diri begini. Maafin saya.
Maafin saya yang sudah ngebebanin mas pake minta radio segala, '

Katanya sambil meneteskan air mata sedih.
Suaminya segera memeluknya. Juga sambil menangis
'sudahlah mah, kita ngga usah beli radio, tapi bnyk orang yang engga bisa makan seperti kita.dua kali sehari,
'katanya menghibur, sambil tetap menangis sedih. Masa istrinya minta radio saja ga bisa di beliin.
Tapi apa daya,emang ga bisa. .

No comments:

Post a Comment