Friday, 27 July 2012

super inspire part 1 ("Pohon yang Terluka")

Pohon yang Terluka ~ Ada seorang anak kecil yang selalu menyendiri. Namanya Roy. Dia tidak memiliki teman bermain. Anak-anak yang seumuran dengannya pun tidak mau mendekatinya. Mereka tidak ingin disakiti karena Roy suka berkelahi. Suatu hari Roy sedang berjalan-jalan di taman, teman-temannya bermain dengan riang. Roy ingin sekali bermain dengan mereka. Roy pun mendekat, tiba-tiba beberapa dari temannya menjadi diam dan berhenti bermain. Sebagian dari mereka ada yang berlari ketakutan. Roy menyadari bahwa mereka tidak ingin bermain dengannya. "Ah, aku tidak suka permainan anak kecil yang lemah. Aku ingin permainan yang menantang" kata Roy dalam hati membohongi dirinya sendiri. Roy berjalan menjauhi mereka, sambil sesekali menengok ke arah mereka. "Bermainlah dengan mereka. Jangan membohongi diri sendiri. Kau akan bahagia bila berkumpul dengan mereka" kata seorang kakek tua yang duduk di taman itu, tepat di depan Roy yang sedang melintas. Roy pun mencoba saran kakek tua itu. Dia kembali mendekati teman- temannya. "Ada apa kau kembali lagi kesini? Mau memukuli kami lagi?" sahut salah seorang temannya. "Tidak. Aku tidak ingin berkelahi. Aku hanya ingin bermain bersama kalian" kata Roy. "Ah, kami tidak percaya. Lebih baik kau berburu hewan saja daripada menyakiti kami" kata mereka serentak. Dengan wajah sedih dan marah Roy berlari menuju ke sepedanya yang dari tadi sudah terparkir di tepi jalan. Rupanya Roy mengambil peralatan berburunya yang biasa dia gunakan untuk memanah burung. "Awas kalian. Akan kubalas sebentar lagi" kata Roy dalam hati. "Apa yang akan kau lakukan dengan panah- panah itu?" tanya kakek itu pada Roy. "Aku akan balas dendam pada mereka karena telah menolak aku" jawab Roy kesal. Kakek itu hanya tersenyum sambil mengambil anak panah dari pundak Roy. Kakek itu menyuruhnya untuk memegang anak panah itu. Roy mulai kebingungan dengan maksud kakek itu. "Kau masih ingat, salah satu anak yang pernah kau pukul?" tanya kakek. "Iya" jawab Roy. "Kalau begitu tancapkanlah anak panah itu ke pohon itu" kata kakek itu sambil menunjuk ke salah satu pohon. Roy pun menancapkan anak panah itu ke pohon. "Apa masih ada lagi anak yang kau sakiti?" tanya kakek. "Ada kek" jawab Roy. Lalu Roy menancapkan anak panah itu ke pohon. Begitu seterusnya sampai persediian anak panahnya habis. "Lihatlah! Betapa banyak anak yang telah kau sakiti"

tunjuk kakek pada batang pinus yang telah penuh dengan anak panah. "Ya kek, aku sudah mencoba untuk meminta maaf pada mereka tapi mereka tetap membenciku" jawab Roy. "Coba kau cabuti satu per satu anak panah itu!" perintah kakek. Roy mulai mencabuti anak panah itu. Setiap cabutan yang dilakukan, meneteslah cairan dari pohon pinus itu. Seolah-olah pohon pinus itu menangis karena menahan sakit. "Banyak lubang-lubang di pohon. Pohon itu mengeluarkan cairan seperti menangis" kata Roy pelan. "Seperti itulah teman- temanmu. Merak menangis ketika kamu sakiti. Meskipun kamu sudah meminta maaf tetapi luka itu masih membekas di hati mereka. Pohon-pohon itu membutuhkan waktu untuk sembuh dan menutupi lubang-lubang itu. Mereka membutuhan waktu untuk memafkan dan mempercayaimu lagi" kakek itu menjelaskan pada Roy. Roy pun menangis dan menyadari semua kesalahannya. *** Bila pohon bisa terluka dan menangis, bagaimana dengan hati manusia? Ada bermacam-macam bentuk hati manusia. Ada yang keras, ada yang lembek, dan ada yang elastis. Bila tersakiti dan dikecawakan, maka hati yang keras akan membuat benteng perlindungan yang terbuat dari kebencian dan akar kepahitan. Lain halnya dengan hati yang lembek. Hati yang lembek akan mudah hancur. Orang dengan hati lembek bila tersakiti maka akan membuat hidupnya tidak bersemangat dan lama- lama semakin lemah/hilang pengharapan. Sedangkan hati yang elastis adalah hati yang mudah memaafkan. Hati seperti ini adalah hati yang kuat dan tahan terhadap segala pencobaan. Milikilah kerendahan hati, pikiran positif, dan kasih terhadap sesama, maka hidupmu akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarmu.

No comments:

Post a Comment