
Pohon yang Terluka ~ Ada
seorang anak kecil yang selalu menyendiri. Namanya Roy. Dia tidak
memiliki teman bermain. Anak-anak yang seumuran dengannya pun tidak mau
mendekatinya. Mereka tidak ingin disakiti karena Roy suka berkelahi.
Suatu hari Roy sedang berjalan-jalan di taman, teman-temannya bermain
dengan riang. Roy ingin sekali bermain dengan mereka. Roy pun mendekat,
tiba-tiba beberapa dari temannya menjadi diam dan berhenti bermain.
Sebagian dari mereka ada yang berlari ketakutan. Roy menyadari bahwa
mereka tidak ingin bermain dengannya. "Ah, aku tidak suka permainan anak
kecil yang lemah. Aku ingin permainan yang menantang" kata Roy dalam
hati membohongi dirinya sendiri. Roy berjalan menjauhi mereka, sambil
sesekali menengok ke arah mereka. "Bermainlah dengan mereka. Jangan
membohongi diri sendiri. Kau akan bahagia bila berkumpul dengan mereka"
kata seorang kakek tua yang duduk di taman itu, tepat di depan Roy yang
sedang melintas. Roy pun mencoba saran kakek tua itu. Dia kembali
mendekati teman- temannya. "Ada apa kau kembali lagi kesini? Mau
memukuli kami lagi?" sahut salah seorang temannya. "Tidak. Aku tidak
ingin berkelahi. Aku hanya ingin bermain bersama kalian" kata Roy. "Ah,
kami tidak percaya. Lebih baik kau berburu hewan saja daripada menyakiti
kami" kata mereka serentak. Dengan wajah sedih dan marah Roy berlari
menuju ke sepedanya yang dari tadi sudah terparkir di tepi jalan.
Rupanya Roy mengambil peralatan berburunya yang biasa dia gunakan untuk
memanah burung. "Awas kalian. Akan kubalas sebentar lagi" kata Roy dalam
hati. "Apa yang akan kau lakukan dengan panah- panah itu?" tanya kakek
itu pada Roy. "Aku akan balas dendam pada mereka karena telah menolak
aku" jawab Roy kesal. Kakek itu hanya tersenyum sambil mengambil anak
panah dari pundak Roy. Kakek itu menyuruhnya untuk memegang anak panah
itu. Roy mulai kebingungan dengan maksud kakek itu. "Kau masih ingat,
salah satu anak yang pernah kau pukul?" tanya kakek. "Iya" jawab Roy.
"Kalau begitu tancapkanlah anak panah itu ke pohon itu" kata kakek itu
sambil menunjuk ke salah satu pohon. Roy pun menancapkan anak panah itu
ke pohon. "Apa masih ada lagi anak yang kau sakiti?" tanya kakek. "Ada
kek" jawab Roy. Lalu Roy menancapkan anak panah itu ke pohon. Begitu
seterusnya sampai persediian anak panahnya habis. "Lihatlah! Betapa
banyak anak yang telah kau sakiti"
tunjuk kakek pada batang pinus
yang telah penuh dengan anak panah. "Ya kek, aku sudah mencoba untuk
meminta maaf pada mereka tapi mereka tetap membenciku" jawab Roy. "Coba
kau cabuti satu per satu anak panah itu!" perintah kakek. Roy mulai
mencabuti anak panah itu. Setiap cabutan yang dilakukan, meneteslah
cairan dari pohon pinus itu. Seolah-olah pohon pinus itu menangis karena
menahan sakit. "Banyak lubang-lubang di pohon. Pohon itu mengeluarkan
cairan seperti menangis" kata Roy pelan. "Seperti itulah teman- temanmu.
Merak menangis ketika kamu sakiti. Meskipun kamu sudah meminta maaf
tetapi luka itu masih membekas di hati mereka. Pohon-pohon itu
membutuhkan waktu untuk sembuh dan menutupi lubang-lubang itu. Mereka
membutuhan waktu untuk memafkan dan mempercayaimu lagi" kakek itu
menjelaskan pada Roy. Roy pun menangis dan menyadari semua kesalahannya.
*** Bila pohon bisa terluka dan menangis, bagaimana dengan hati
manusia? Ada bermacam-macam bentuk hati manusia. Ada yang keras, ada
yang lembek, dan ada yang elastis. Bila tersakiti dan dikecawakan, maka
hati yang keras akan membuat benteng perlindungan yang terbuat dari
kebencian dan akar kepahitan. Lain halnya dengan hati yang lembek. Hati
yang lembek akan mudah hancur. Orang dengan hati lembek bila tersakiti
maka akan membuat hidupnya tidak bersemangat dan lama- lama semakin
lemah/hilang pengharapan. Sedangkan hati yang elastis adalah hati yang
mudah memaafkan. Hati seperti ini adalah hati yang kuat dan tahan
terhadap segala pencobaan. Milikilah kerendahan hati, pikiran positif,
dan kasih terhadap sesama, maka hidupmu akan menjadi berkat bagi
orang-orang di sekitarmu.
No comments:
Post a Comment