Tuesday, 31 July 2012

Bagaimana Mereka yang SUKSES menanggapi kesalahan dan Kegagalan, apakah Anda memiliki pandangan yang sama???


Belajar Dari Kesalahan DAN Bangkit Dari Kegagalan*

Oleh : Peri Irawan**


Sebagian besar dari kita menyikapi kesalahan dan kegagalan adalah sebagai sesuatu yang buruk. Karena dua hal tadi biasanya kita akan mendapatkan cemoohan bahkan terkadang ditinggalkan oleh orang-orang yang kita anggap sangat dekat dengan kita. Kesalahan dan kegagalan menjadi sebagai sesuatu yang buruk telah dikenalkan kepada kita bahkan sejak kita duduk di sekolah dasar dan atau bahkan mungkin di dalam keluarga kita sendiri. Beberapa diantara kita pernah mengalaminya, dahulu saat di sekolah dasar, ketika kita membuat kesalahan kita dimarahi, ditertawakan oleh teman bahkan terkadang diacuhkan atau yang paling parah kita disetrap oleh guru yang mengajarkan.


Berbeda dengan kegagalan, terkadang karena kegagalan kita divonis sebagai orang yang tidak berguna, dicap sebagai orang yang tolol dan bodoh. Saya melihat hal ini masih tejadi di sebagian masyarakat dan sistem pendidikan kita (disegala level SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi atau Akademi), seyogyanya kita perlu merubah kebiasaan tersebut, sudah bukan jamannya lagi metode-metode tersebut dipakai dalam menilai dan mengukur kemampuan seseorang serta menjadikannya bagian dari cara mendidik generasi-generasi penerus kita.

Para pembaca yang berbahagia dimana pun Anda berada. Paradigma atau cara memandang kita terhadap sebuah kesalahan dan kegagalan saat ini harus dirubah. Karena perlu dipahami oleh kita semua, bahwa saat ini pendidikan sudah menekankan kepada aspek kepribadian diri (yang meliputi kecerdasan emosional dan spiritual) selain kecerdasan/ intelegensia semata (IQ). Secara psikologis manusia berbeda-beda dalam menanggapi hal-hal yang terjadi kepada dirinya. Dalam hal menanggapi kesalahan dan kegagalan, ada mereka yang ketika dimarahi, dicemooh, direndahkan dan dikritik malah termotivasi untuk bangkit serta berusaha merubah keadaan menjadi lebih baik, tetapi orang-orang seperti mereka apabila dipuji justeru sebaliknya menanggapinya dengan biasa-biasa saja.

Dan sebaliknya ada mereka bisa menunjukan kemampuannya secara optimal saat hasil kerjanya dipuji dan diberikan penghargaan, tipe orang ini akan lebih termotivasi saat dipuji dan dihargai, sedangkan ketika mendapatkan kritikan, dimarahi, atau disalahkan dirinya akan merasa lemah, tertekan dan tidak berdaya sehingga dirinya mempercayai stigma negatif yang melekat dalam dirinya sebagai bagian dari kehidupannya. Para pendengar, oleh karena itu ketika kita hendak memberikan kritikan dan motivasi baik terhadap anak kita, bawahan maupun mitra dan rekan kita hendaknya kita perlu bijaksana dalam menilai karakter seseorang, apakah dia seseorang yang tertantang menerima kritikan atau tipe orang yang tidak toleran terhadap kritikan serta kesalahan, dan hanya bisa dimotivasi dengan penghargaan dan pujian?

Hindarilah oleh kita semua, kata-kata yang bisa menjadi belenggu mental seseorang, di saat seseorang tersebut melakukan kesalahan atau kegagalan. Kita harus melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar dan memandang kegagalan sebagai bagian dari kesuksesan. Para pembaca yang budiman, alamiahnya segala kehidupan kita adalah merupakan proses belajar yang panjang. Seperti kurva ”anak burung” yang ketika hendak belajar terbang, maka anak burung tersebut akan memulainya dengan coba-coba (trial and error), kemudian dia terjatuh, mencoba kembali sehingga dirinya dapat terbang seperti induknya yang sudah terrbang gagah di langit yang luas. Kurva belajar ”anak burung” mirip dengan huruf ’U’ memulai pangkalnya di atas kemudian menukik ke bawah kemudian ke atas lagi untuk sampai di ujungnya. Itulah proses belajar kita yang paling tepat dan sangat alamiah.

Para pembaca yang budiman dimanapun Anda berada. Kita bisa mendapatkan pelajaran lebih banyak saat kita banyak melakukan kesalahan. Karena kita memang pada dasarnya harus belajar dari kesalahan terlebih dahulu, masih ingatkah Anda saat pertama kali belajar mengendarai sepeda motor atau belajar menaiki sepeda biasa, awal-awalnya Anda akan kesulitan, mungkin akan terjatuh, mungkin menabrak pagar, atau bahkan mungkin masuk selokan? Segala sesuatu dapat terjadi kepada kita saat kita menjalani proses belajar.

Para pembaca yang terhormat, biasanya siapa yang tidak pernah berbuat kesalahan maka dia juga tidak pernah belajar (bertindak), atau siapapun yang jarang berbuat kesalahan maka dirinya pun biasanya jarang belajar, tentunya kesalahan bukan untuk diulang-ulang, kesalahan akan bisa disebut sebagai kesalahan apabila kita belum memahami obyek yang kita pelajari tersebut. Apabila kita masih berbuat kesalahan di tempat yang sama, maka kita perlu menginstropeksi diri, mungkin ada yang kurang pas di dalam diri kita. Pandanglah kesalahan sebagai tantangan dalam belajar.

Begitupun kesuksesan. Ada kata-kata bijak yang sangat saya sukai yang bunyinya antara lain sebagai berikut ;

”Kesuksesan adalah rangkaian kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat untuk meraih keberhasilan.”

Hanya mereka yang pernah mengalami kegagalan yang dapat menghargai dan mengetahui betapa hebatnya kesuksesan. Kita bisa merasakan manisnya sukses apabila kita pernah merasakan pahitnya kegagalan. Jadi sekali lagi, pandanglah saat ini bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian daripada keberhasilan dan kesuksesan itu sendiri. Selama manusia masih berusaha meraih mimpi-mimpinya, meskipun sering terjatuh dan gagal apabila dia tetap berusaha bangkit dan tetap terus mencoba merealisasikan mimpi-mimpinya dia belum bisa dikatakan gagal, seseorang dapat dapat dikatakan gagal di mana saat orang tersebut menyerah dan enggan bangkit lagi dari kegagalannya.

Kesalahan dan kegagalan biasanya dimulai dari kelemahan diri. Oleh karena itu kita perlu menangani kelemahan diri kita dengan berbagai upaya, antara lain :

1. Memperkuat kemampuan diri di bidang yang paling kita lemah (contoh beladiri, sepak bola,
atau bidang lainnya).
2. Ciptakan sistem pendukung, gunakan banyak Sumber Daya yang ada di sekitar Kita
dan Talenta yang kita miliki.
3. Gunakan kekuatan lain untuk mengatasi kelemahan.
4. Temukan Mitra yang tepat.

Saat ini mereka yang sukses luar biasa dan terkenal adalah mereka-mereka yang dahulunya bukanlah siapa-siapa. Tahukah Anda bahwa pakar Manajemen Rhenald Kasali pernah gagal dalam akademis, dia pernah tidak naik kelas di kelas 5 sekolah dasar, sehingga kejadian tersebut merubah mentalnya dan menjadikannya orang yang hebat sebagai pakar Manajemen sekarang ini, Oprah Winfrey sejak kecil hidup di lingkungan yang serba sulit dan miskin, bahkan dirinya pernah mengalami pencabulan saat remaja oleh saudaranya sendiri, dan saat ini dirinya menjadi presenter terkaya di dunia dengan acara Oprah Winfrey Shownya serta maju bersama Perusahaan Harpo Production yang di bawah pimpinannya.

Thomas Alfa Edison pernah divonis oleh gurunya bahwa dia tidak pantas disekolahkan karena dia dianggap idiot dan aneh, bahkan kalau pun harus sekolah dia harus sekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) waktu itu, saat ini kita mengetahui bahwa Thomas Alfa Edison adalan penemu dan inovator terbesar sepanjang sejarah manusia, hingga banyak penemuannya yang dipatenkan atas namanya, dan kisah orang-orang yang sukses lainnya, yang besar dan dikenang sepanjang masa karena mereka telah belajar dari kesalahan dan kegagalan yang pernah mereka hadapi. Sebagian besar dari mereka bahkan bersyukur pernah mengalami kesalahan dan kegagalan tersebut dalam kehidupan mereka.

Demikianlah para pembaca yang saya cintai dimanapun Anda berada, marilah kita rubah paradigma kita atau cara memandang kita terhadap kesalahan dan kegagalan yang negatif menjadi sebuah pengalaman positif. Hadapilah setiap kesalahan dan kegagalan dengan kebesaran jiwa, ambillah pelajaran tebaik darinya, agar kita lebih bijak dalam menyikapi kehidupan serta menjadikan hidup kita ke arah yang lebih baik, Terima kasih kepada para pendengar yang masih tetap setia di setiap tulisan pengembangan diri kali ini, semoga pembahasan kita pada kali ini bisa memberikan Anda para pembaca, manfaat, pencerahan dan inspirasi serta wawasan baru, sehingga Anda dapat bijaksana dalam menanggapi kesalahan dan kegagalan yang telah Anda buat dan yang akan Anda alami lagi selanjutnya, karena sekali lagi, hidup kita sejatinya adalah proses belajar, dimana kesalahan serta kegagalan adalah bagian dari belajar dan kesuksesan itu sendiri.

Salam Sukses, Salam Pembelajar dari saya Peri Irawan.

*) Bahan/wacana ini disampaikan dalam acara pengembangan diri pada hari Senin tanggal
22 Maret 2010 jam 20.00 s/d 21.00 WIB di radio RJFM 101,2 MHz.
**) Penulis adalah pengasuh web blog visionerpd.blogspot.com dan pembicara utama dalam
acara pengembangan diri di radio RJFM 101,2 MHz.

Sisi Positif dari Penderitaan

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?
Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.
Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.
Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kisah Nyata atau Dongeng?

Saya akan menceritakan beberapa kisah nyata dan saya jamin Anda akan merasakannnya sebagai sekedar dongeng. Bukan karena Anda tidak mempercayai saya atau sumber-sumber dari mana saya memperoleh kisah-kisah nyata itu; namun terutama karena kita hidup di zaman yang jauh lebih absurd dari dongeng. Atau karena kehidupan kita sudah sedemikian jauh meninggalkan norma-norma nyata dalam kehidupan kemanusiaan.
Baiklah saya mulai saja. Anda sudah siap mengikuti kisah-kisah saya? Inilah:
1. Suatu hari ada seorang tua miskin datang kepada Syeikh –kalau sekarang mungkin dipanggil kiai– Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan sesuatu keperluan meminta tolong kepada tokoh masyarakat yang disegani itu. Seperti layaknya orang yang sudah tua renta, selama berbicara mengutarakan hajatnya, si orang tua miskin itu bersandarkan pada tongkat penopang ketuaannya. Dan tanpa disadari, ujung tongkatnya itu menghujam pada kaki syeikh Sa’id hingga berdarah-darah. Seperti tidak merasakan apa-apa, Syiekh Sa’id terus mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan wong cilik itu.
Demikianlah; ketika orang tua itu sudah mendapatkan dari Syeikh apa yang ia perlukan dan pergi meninggalkan majlis, orang-orang yang dari tadi memendam keheranan pun serta-merta bertanya kepada Syeikh Sa’id: “Kenapa Syeikh diam saja, tidak menegur, ketika orang tua tadi menghujamkan tongkatnya di kaki Syeikh?”
“Kalian kan tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya;” jawab Syeikh Sa’id sambil tersenyum, “Kalau aku mengadu atau apalagi menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi menyampaikan hajatnya.”
Lihatlah. Bukankah kisah di atas bagaikan dongeng saja?! Mana ada pemimpin atau tokoh masyarakat yang begitu tinggi menempatkan keperluan orang yang memerlukan bantuan dalam perhatiannya? Kalau pun ada, mungkin untuk menemukannya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami sekarang ini.
2. Syeikh Hasan Al-Bashari, siapa yang tak mengenal tokoh ulama dan sufi di penghujung abad pertama ini? Beliau tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani. Apartemen si Nasrani di atas dan beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga, belum pernah si Nasrani datang bertandang ke apartemen Syeikh Hasan. Baru ketika Syeikh Hasan jatuh sakit, si Nasrani datang menjenguk.
Ketika menjenguk itulah, si Nasrani baru tahu betapa sederhana kehidupan Syeikh Hasan yang sangat terkenal kebesarannya itu. Tapi yang lebih menarik perhatian si Nasrani adalah adanya sebuah baskom berisi air keruh yang terletak di dekat bale-bale tempat tidur Syeikh Hasan. Apalagi ketika ada tetesan air jatuh tepat dari atas baskom. Spontan si Nasrani teringat kamar mandinya di atas. Dengan ragu-ragu si Nasrani pun bertanya: “Syeikh, ini baskom apa?’
“Ah baskom itu, sekedar penampung tetesan air;” jawab Syeikh wajar-wajar saja, “Setiap kali penuh baru saya buang.”
“Sudah berapa lama Syeikh melakukan ini?” tanya si Nasrani lagi dengan suara gemetar, “maksud saya menampung tetesan air dari atas ini?”
“Ya, kurang-lebih sudah dua puluh tahun;” jawab Syeikh kalem, “jadi sudah terbiasa.”
Mendengar itu, si Nasrani langsung menyatakan syahadat. Mengakui Tuhan dan Rasul-nya Syeikh Hasan Al-Bashari, Allah swt dan Nabi Muhammad saw.
Seperti dongeng bukan? Dimana kini Anda bisa menjumpai orang yang menjunjung tinggi ajaran menghormati tetangga seperti Hasan Al-Bashari itu?
3. Datang seseorang melarat kepada sang pemimpin mengeluhkan kondisinya yang sangat lapar. Sang pemimpin pun bertanya kepada isterinya kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata di rumah sang pemimpin yang ada hanya air. Sang pemimpin pun bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini?”
“Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke rumahnya sendiri membawa tamunya.
“Saya membawa tamunya pemimpin kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada isterinya.
“Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persediaan untuk anak-anak kita;” bisik sang isteri.
“Sibukkan mereka;” kata suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur. Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita pura-pura ikut makan, ya!”
Demikianlah keluarga itu menjalankan skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri hingga pagi.
Esok harinya sebelum laporan, sang pemimpin yang tidak lain adalah Rasulullah saw, sudah menyambut kepala rumah tangga –seorang shahabat Anshor– itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalan.”
Anda tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya seperti dongeng, bukan ?!
Tiga kisah itu hanyalah sekedar contoh, yang lainnya masih banyak lagi. Anda bisa dengan mudah menjumpainya di kitab-kitab Anda, di kitab suci Al-Quran, di kitab-kitab Hadis, dan kitab-kitab salaf pegangan kita yang lain. Hampir semuanya, bila Anda baca, Anda akan merasa seperti membaca contoh-contoh di atas. Merasa seperti membaca dongeng. Kalau benar demikian, bukankah ini pertanda bahwa kondisi kehidupan kita –masya Allah!—sudah semakin jauh saja dengan kondisi ideal seperti yang dicontohkan oleh Salafunaas Shaalihuun, para pemimpin dan pendahulu kita yang saleh-saleh.
Wallahu a’lam.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.

MELIHAT KEBAWAH PART 1 Siti, Bocah Yatim yang Tangguh…

Siti Bocah Yatim Tangguh: Jualan Bakso dengan Upah Rp. 2000,- Sehari
SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKAAA, PSSIIII, KPSSII, POLISI GANTENG ATAU DARSEM… SEKARANG WAKTUNYA UNTUK…
SITIIII…BOCAH PENJUAL BAKSO
Siti Bocah Yatim Tangguh
Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.
Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.
Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua
 “Based on True Story”

(http://virouz007.wordpress.com)

Friday, 27 July 2012

super inspire part III "ketika teko mengeluarkan isinya"

Teringat perkataan dari teman saya mas wahyu.
Setiap isi teko ketika dimasukan ke dalm gelas, sudah pasti akan mengeluarkan air putih jika isinya air putih, atau jika isinya sirup sudah pasti yang keluar juga sirup.
Analogi tersebut berlaku juga untuk manusia, ketika seseorang mengatakan kata2 yang negatif maka ternyata dia sendirilah yang negatif. Ketika seseorang mengatakan "bodoh !" yang keluar dr orang tersebut,maka sesuai dgn isinya orang yang berkata tersebutlah yang bodoh. .
Sahabat saya yang satupun sadam, hampir sama, pernah berkata kepada saya, ketika seseorang membicarakan kejelekan orang lain, maka ternyata dia sedang membicarakan dirinya sendiri. . Wah sungguh nasehat yang luar biasa untuk saya pribadi, untuk terus memperbaiki diri sendiri dan motivasi yang luar biasa, untuk menghiraukan perkataan yang kurang baik ..

super inspire part II "satu jam yang sederhana"

 
Pada satu kesempatan seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya dengan polosnya : ”Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita, Ayah…? “ Ayahnya memandang kepada anak kecil itu kemudian berkata : ”Tidak, nak… “ Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi… ”Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun…?” Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putri kesayangannya ini. ”Oh Ayah, bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan…?” Ayahnya tertawa… ”Mungkin tidak bisa juga, nak…” ”OK ayah, ini yang terakhir kali… Apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja…?” Akhirnya ayahnya mengangguk. “Kemungkinan besar, bisa nak…” Anak ini tersenyum lega… ”Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah… Keliahatannya akan lebih mudah menjalaninya, dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar… “ Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati… Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini… Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun… Akan menjadikan kita terbiasa… Dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat… Dan sifat akan berubah jadi KARAKTER… HIDUPLAH 1 JAM TANPA : Kemarahan, Hati yang jahat, Pikiran negatif, Menjelekkan orang, Keserakahan, Pemborosan, Kesombongan, Kebohongan, Kepalsuan… Lalu ulangi lagi untuk 1 jam berikutnya.. . HIDUPLAH 1 JAM DENGAN : Kasih sayang kepada sesama… Damai, Kesabaran, Kelemah lembutan, Kemurahan hati, Kerendahan hati.. Ketulusan.. Mulailah dari Jam ini… Satu jam yang sederhana, tapi sangat mungkin akan berarti bagi perjalanan 10 tahun kedepan, bahkan mungkin sampai akhir hayat!:). Mari kita mulai sejak detik ini

super inspire part 1 ("Pohon yang Terluka")

Pohon yang Terluka ~ Ada seorang anak kecil yang selalu menyendiri. Namanya Roy. Dia tidak memiliki teman bermain. Anak-anak yang seumuran dengannya pun tidak mau mendekatinya. Mereka tidak ingin disakiti karena Roy suka berkelahi. Suatu hari Roy sedang berjalan-jalan di taman, teman-temannya bermain dengan riang. Roy ingin sekali bermain dengan mereka. Roy pun mendekat, tiba-tiba beberapa dari temannya menjadi diam dan berhenti bermain. Sebagian dari mereka ada yang berlari ketakutan. Roy menyadari bahwa mereka tidak ingin bermain dengannya. "Ah, aku tidak suka permainan anak kecil yang lemah. Aku ingin permainan yang menantang" kata Roy dalam hati membohongi dirinya sendiri. Roy berjalan menjauhi mereka, sambil sesekali menengok ke arah mereka. "Bermainlah dengan mereka. Jangan membohongi diri sendiri. Kau akan bahagia bila berkumpul dengan mereka" kata seorang kakek tua yang duduk di taman itu, tepat di depan Roy yang sedang melintas. Roy pun mencoba saran kakek tua itu. Dia kembali mendekati teman- temannya. "Ada apa kau kembali lagi kesini? Mau memukuli kami lagi?" sahut salah seorang temannya. "Tidak. Aku tidak ingin berkelahi. Aku hanya ingin bermain bersama kalian" kata Roy. "Ah, kami tidak percaya. Lebih baik kau berburu hewan saja daripada menyakiti kami" kata mereka serentak. Dengan wajah sedih dan marah Roy berlari menuju ke sepedanya yang dari tadi sudah terparkir di tepi jalan. Rupanya Roy mengambil peralatan berburunya yang biasa dia gunakan untuk memanah burung. "Awas kalian. Akan kubalas sebentar lagi" kata Roy dalam hati. "Apa yang akan kau lakukan dengan panah- panah itu?" tanya kakek itu pada Roy. "Aku akan balas dendam pada mereka karena telah menolak aku" jawab Roy kesal. Kakek itu hanya tersenyum sambil mengambil anak panah dari pundak Roy. Kakek itu menyuruhnya untuk memegang anak panah itu. Roy mulai kebingungan dengan maksud kakek itu. "Kau masih ingat, salah satu anak yang pernah kau pukul?" tanya kakek. "Iya" jawab Roy. "Kalau begitu tancapkanlah anak panah itu ke pohon itu" kata kakek itu sambil menunjuk ke salah satu pohon. Roy pun menancapkan anak panah itu ke pohon. "Apa masih ada lagi anak yang kau sakiti?" tanya kakek. "Ada kek" jawab Roy. Lalu Roy menancapkan anak panah itu ke pohon. Begitu seterusnya sampai persediian anak panahnya habis. "Lihatlah! Betapa banyak anak yang telah kau sakiti"

tunjuk kakek pada batang pinus yang telah penuh dengan anak panah. "Ya kek, aku sudah mencoba untuk meminta maaf pada mereka tapi mereka tetap membenciku" jawab Roy. "Coba kau cabuti satu per satu anak panah itu!" perintah kakek. Roy mulai mencabuti anak panah itu. Setiap cabutan yang dilakukan, meneteslah cairan dari pohon pinus itu. Seolah-olah pohon pinus itu menangis karena menahan sakit. "Banyak lubang-lubang di pohon. Pohon itu mengeluarkan cairan seperti menangis" kata Roy pelan. "Seperti itulah teman- temanmu. Merak menangis ketika kamu sakiti. Meskipun kamu sudah meminta maaf tetapi luka itu masih membekas di hati mereka. Pohon-pohon itu membutuhkan waktu untuk sembuh dan menutupi lubang-lubang itu. Mereka membutuhan waktu untuk memafkan dan mempercayaimu lagi" kakek itu menjelaskan pada Roy. Roy pun menangis dan menyadari semua kesalahannya. *** Bila pohon bisa terluka dan menangis, bagaimana dengan hati manusia? Ada bermacam-macam bentuk hati manusia. Ada yang keras, ada yang lembek, dan ada yang elastis. Bila tersakiti dan dikecawakan, maka hati yang keras akan membuat benteng perlindungan yang terbuat dari kebencian dan akar kepahitan. Lain halnya dengan hati yang lembek. Hati yang lembek akan mudah hancur. Orang dengan hati lembek bila tersakiti maka akan membuat hidupnya tidak bersemangat dan lama- lama semakin lemah/hilang pengharapan. Sedangkan hati yang elastis adalah hati yang mudah memaafkan. Hati seperti ini adalah hati yang kuat dan tahan terhadap segala pencobaan. Milikilah kerendahan hati, pikiran positif, dan kasih terhadap sesama, maka hidupmu akan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarmu.

Monday, 23 July 2012

Cerita Inspirasi tentang Penghargaan Kerja Keras :)

Alkisah ada seorang Bapak dan anak sedang keluar makan malam bersama,
Mereka berdua makan sop ayam dipinggir jalan,
Ditengah mereka makan, tiba2 ada seorang kakek yang menawarkan dagangannya yaitu beberapa buah bakul nasi (tempat nasi) kosong..
kalau tidak salah sekitar 8 buah.
Bakul-bakul nasi itu terbuat dari anyaman bambu,

Kakek itu menawarkan ke pembeli sop ayam satu persatu, tetapi tidak ada yang membeli, bahkan hanya beberapa orang yg menggubris,,,
Sang Kakek penjual bakul nasi tersebut akhirnya berjalan pergi.
Tiba-tiba ada seorang lelaki memanggil kakek tersebut.

"Keekk...kesini dulu kek!" seru lelaki itu,,,

Ternnyata lelaki itu adalah Bapak yang mengajak anaknya makan tadi.
Kakek tdi dengan wajah berseri mendatangi Bapk tadi.

K: Ada Apa Pak? Bapak mau beli??
B: Ini satu berapa Kek..?
K: Murah Kok Pak,,,5000 saja
B: Waahhh,,,kok murah sekali Kek,,Apa untung Kek?
K: Ngga papa Pak...ini dari tadi belum ada yang laku,..
B: Yang buat siapa kek?
K: istri saya Pak...
B: istri buat anyaman bambu untuk dijadikan bakul Pak?
K: Iya Pak, istri saya sudah tua, setiap hari hanya bisa membuat bakul...istri buat, saya yang jual...
tapi ini dari tadi pagi belum laku Nak,,
B: ada berapa itu Kek?
K: ada 8 Pak..
B: Yasudah saya beli semua, kebetulan saya butuh..
K: Alhamdulillaahh,,,Semua Pak????
B: iya, semua Pak...
K: Terimakasih ya Allah,,,
B: ini uangnya Pak..
(Sang Bapak mengeluarkan uang 100 ribu)
K: tidak ada kembaliannya Pak..uang kecil saja,,,
B: sudah Pak, sisanya buat Bapak saja
K: Alhamdulillah,,,Terimakasih ya Pak...
B: sama-sama Pak,,,Jangan menyerah ya Pak,,Jaga kesehatan,,,
K: Mkasih ya Pak..Terimakasih,,,
(sang Kakek lalu berjalan pulang)



ternyata Anak Bapak tersebut dari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan yang terjadi antara Bapaknya dan Kakek penjual bakul tadi,
dan akhirnya sang anak bertanya:

A: Pak, kok Bapak membeli dagangan Kakek itu..untuk apa Pak?
B: tidak untuk apa-apa Nak,,Bapak juga bingung ini mau dibuat apa..hehehe...
A: Bapak cuman ingin menolong Kakek tadi ya?
B: iya nak,,,
A: Kalau ingin menolong knapa kok tidak dikasih uang saja Pak?
Kalau Bapak kasih uang, kan dagangannya si Kakek tdi bisa dijual esok hari Pak..
B: Bagini Nak, yg membuat anyaman bambu untuk bakul tdi itu istrinya kakek tadi,,Ketika sang Kakek pamit menjajakan bakul tersebut,
si Nenek pasti berharap ketika suaminya pulang, dagangan yang dia buat, laku semua,,,
Nenek akan sedih ketika dagangan yang dia buat tidak ada peminatnya. Walaupun si kakek dapat uang,,
Nah, dengan Bapak membeli semua dagangannya,ketika si kakek pulang,dan nenek melihat dagangannya laku semua, nenek akan senang,
dan besok akan semakin semangan untuk bekerja dan membuat bakul lagi,,

Nenek akan senang karena hasil kerja kerasnya dihargai orang,,Hasil kerja kerasnya membuat bakul, dibeli orang,,,

Si anak hanya diam dan meneteskan air mata...Betapa Mulianya hati Bapaknya itu,,,

Kemudian sang Bapak membagikan bakul nasi tersebut kepada yang butuh sembari pulang menerobos dinginnya malam




Penghargaan akan kerja keras seseorang, terkadang jauh lebih berarti dari nilai uang 


Di Dunia ini masih banyak orang baik Gan. Kita Harus jadi salah satunya!

Saturday, 7 July 2012

Bahan renungan ¤¤jika bayi aborsi bisa bicara¤¤

Ini pesan sepesial dari seorang Ibu yang menyesal..
... Mudah- mudahan ini bermanfaat...

Halo Ma..! Panjang ku hanya 2cm saja,
tapi aku tu sudah ada orang seluruh di badan.
Setiap kali aku mendengar suara Mama,
aku pasti goyangkan kaki dan tangan ku.
Gemeees dech...!
Aku sayang Mama..
Bunyi detak jantung Mama itu dalah music terindah yang temani hari-hari ku... />

Bulan ke dua:
Ma..! Sekarang aku lagi belajar isep jari-jari imut ku...
asyik dech Ma... Oiya Ma... Disini hangat lho Ma..
Entar kalau aku sudah keluar,
aku mau bermain sama Mama.
Aku janji akan buat Mama bahagia..

Bulan ke tiga:
Ma..! Aku belum tau apa jenis kelamin ku..?
Tapi apa pun aku, aku harap Mama dan Papa senang ya..?!
Ma..! janji gak boleh nangis ya..?! Taugak Ma..? Kalau Mama nangis, aku juga ikut nangis.. huk huk huk..

Mesti Mama belum bisa dengar suara ku,
aku sedih banget dech..!
Percaya lah Ma,
Tuhan pasti memberi yang terbaik bagi kehidupan Mama..
Apa pun itu...

Bulan ke Empat:
Mama..! Rambut ku mulai tumbuh lho Ma..
Ini jadi mainan baru ku... haha ha...
Oh ya Ma.. Aku sekarang sudah bisa menengokan kepalaku,
putar kiri, putar kanan.. tralala...!
Aku juga bisa gerakin tangan dan kaki ku lho Ma..

Bulan ke lima:
Ma...! Hari ini Mama ke dokter ya..??
Tadi dokter itu bilang apa Ma..??
Apa itu ABORSI..??? Ma.. Aku gak akan di apa-apain kan Ma..?? Ma.. aku kok tiba-tiba takut...




Bulan ke enam:
Ma..! hari ini Mama ke dokter itu lagi ya Ma..?
Ma.. Aku sayang Mama... \
Ma.. tolong kasih tau dokter itu, aku sehat-sehat saja lho Ma..!
Ma.. Dokter itu sudah mulai masukan benda-benda tajam..
Ma.. benda tajam ini mulai memotong-motong rambut ku..
Mama... tooloong aku... toooolloonngg aku Mama...
Aku benar-benar sayang Mama,
aku mau berbakti sama Mama.
Aku janji, aku akan bahagia kan hidup Mama..
Ma.. apa Mama gak sayang sama aku..??
Ma..! benda- benda tajam ini mulai memotong-motong kaki ku.. huk huk huk.... Saakkiiitt...! Saaakkkkiiiitt. .. Ma...

Ma.. Aku salah apa sich sama Mama..??
Ma.. meski aku hidup tanpa kaki, tapi aku masih mempunyai
kedua tangan yang bisa membelai Mama dan memeluk Mama yang aku sayangi.. Ma.. tolong kasih tau dokter itu suruh menghentikan benda-benda tajam biadab ini Ma..
Ma.. Toooollllloooon nnggg... Ma... Sekarang benda tajam ini mulai memotong-motong kedua tangan ku.. Ma... huk huk huk... Saaakkkiiiiittt ... Saaaakkkkiiiiit tttt.... Ma.....!!
Aku salah apa sich sama Mama..??

Ma... mesti aku hidup tanpa tangan dan kaki, tapi aku masih punya kedua mata, telinga, hidung, mulut, dan anggota badan ku yang lain nya... Aku masih ada kesempatan untuk melihat wajah Mama yang sangat aku sayangi.. Aku masih bisa bilang ke Mama, bahwa aku Cinta Mama...! Ma..Saaaaaakkkk iiiiiiiiitttttt tt..... Saaaaaaaaakkkkk kkiiiiiiiiiittt ...Maa...!!
Sekarang benda tajan ini mulai memotong leher ku Ma....!! Ma...Tooooooooo oollllllllllllo ooooooonnnngggg g.......! Saaaaaaakkkkkki iiiittttt...... Maa....!!!

Bulan ke tujuh:
Ma...! Disini aku baik-baik saja...!
Aku sudah bersama Allah di Syurga..
Allah Sudah mengembalikan semua orang tubuh ku yang dipotong dengan sadis oleh benda-bendatajam itu...
Allah memegang tangan ku...
Allah menggendongku dan memeluk ku dengan lembut nya..
Allah telah membisikan ketelinga ku tentang apa itu ABORSI..?? Ma.. Kenapa Mama gak mau main sama aku..??
Apa salah anak mu ini..??
Kenapa Mama tega berbuat kejam terhadap darah daging Mama sendiri..??
bukan kah Mama percaya bahwa Tuhan punya rencana terbaik dan terindah buat hidup Mama..??
Kenapa Mama menolak HADIAH dari Tuhan..??
Bukan kah Mama tau bahwa hidup ini hanya lah perjalanan...?? Bukan kah hidup ini hanya sementara..??

Ma..! Masih banyak pertanyaan, KENAPA.. KENAPA dan KENAPA... yang ingin aku tanyakan soal tindakan Mama terhadap ku...??
 

** PESANKU BUAT MAMA **
Ma.. BERTAUBAT-LAH.. !
Beri tau semua teman Mama ..
STOP ABORSI..!!
Beri tau semua teman Mama...
Betapa sakit nya aku di potong- potong didalam kandungan Mama, seperti seonggok daging yang tak berguna..

Beri tau semua temanMama..
Aku berhak hidup didunia Ma..!

Beri tau semua teman Mama...
ABORSI itu bikin Murka Allah...!!!

Semoga Mama mengerti dengan apa yang anak mu maksud..

"Yaa Allah...!
Ampuni lah dosa Mama ku..!
Sebab Mama tidak tau apa yang telah Mama perbuat..
sebab Mama tidak tau betapa sakitnya aku
di potong-potong kala itu..
AMIN....!

renungan yang perlu anda baca(terutama yang udah bekerja!!)


Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula.
Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, “Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!”

Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.

Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja “jatuh”, bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam
tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.
Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu resiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kita diajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, “Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!”


Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga.

Ketulusan dan Kesungguhan (cerita renungan untuk kita)

Ketulusan dan Kesungguhan (cerita renungan untuk kita)


Di kisahkan ada dua orang pemuda yang sedang mencari pekerjaan di kota. Karena, sulitnya mencari pekerjaan yang layak, memaksa mereka bekerja di sebuah proyek pembangunan untuk perumahan elite.
Namun, walaupun mereka bekerja di tempat yang sama, tugas yang mereka dapatkan berbeda.

Pemuda pertama dengan tubuh besarnya di suruh oleh mandor untuk mengerjakan pekerjaan yang terlihat mudah yaitu membuat beberapa pintu dan jendela yang terbuat dari kayu. Dan, pemuda kedua yang terlihat lebih kecil dari pemuda pertama justru di suruh oleh mandor mengerjakan pekerjaan yang terlihat sulit yaitu menyusun batu bata dan mengaduk semen.



Mendengar apa yang di katakan pak mandor pemuda pertamapun merasa bahagia karena ia merasa pekerjaan yang di berikan terlalu mudah mengingat badannya yang besar sehingga menurutnya tidak perlu sungguh- sungguh dalam bekerja, sedangkan pemuda kedua merasa pekerjaan yang diberikan pak mandor sebagai tantangan yang harus di selesaikan dan perlu kesungguhan untuk menyelesaikannya. Dan, setelah pembagian tugas selesai di berikan pak mandor menganta pemuda pertama menuju tempat bekerjanya dan betapa kagetnya pemuda ini ketika dia melihat pintu dan jendela yang harus di selesaikan berbentuk ukiran yang mempunyai tingkat kerumitan cukup tinggi karena desain rumah yang akan di buat bergaya tradisional. Pak mandor kemudian memanggil salah satu pekerjanya, dan berkata “Pak tolong ajarkan pemuda ini mengukir dengan baik ya.”
“Baik pak,” kata pekerja tersebut sambil membawa pemuda pertama tadi menuju tempat di mana tergeletaknya kayu yang harus di ukir. Dan, karena sikapnya yang tidak sungguh-sungguh saat mengerjakan pekerjaan yang di anggapnya mudah membuatnya berulang kali melakukan kesalahan meski telah diajari berulang kali. Hal yang berbeda justru terlihat dari pemuda kedua, tampak dari jauh dia melakukan pekerjaan tanpa melakukan kesalahan meski hanya sekali di ajarkan. Karena, pemuda kedua terlihat mudah untuk memasang batu bata, terbesit niatan dari pemuda pertama untuk bertukar tempat. Agar kesalahan yang dia lakukan saat mengukir tidak ketahuan oleh mandornya. Dan, dia pun menghampiri pemuda kedua tadi, “hai kawan, kau terlihat lelah, jadi ijinkan aku untuk menggantikanmu menyusun batu bata ini dan kamu silahkan istirahat di sana sambil menggantikanku untuk mengukir kayu,” kata pemuda pertama. Pemuda kedua pun menyetujuinya, dan pergilah pemuda kedua menuju tempat di mana tergeletaknya kayu yang harus di ukir.
Dan, sore hari ketika pak mandor melihat hasil kerja beberapa pegaiwainya, dia melihat ada satu pintu yang terlihat bagus ukirannya, dan kemudian sambil memegang pintu tersebut dia pun bertanya kepada semua pegaiwanya, “Siapa yang mengukir pintu ini?”
“Pemuda ini pak,” kata salah satu pegawainya sambil menepuk pundak pemuda kedua. Kemudian pak mandor menghampirinya dan bertanya, “Nak bagaimana kau bisa melakukannya?”
“Sederhana pak caranya, kuncinya adalah bekerja dengan ketulusan dan kesungguhan, karena saat kita mendengarkan apa yang diajarkan dengan hati yang tulus maka kita akan mudah memahaminya, dan setelah kita memahami bagaimana caranya, kita tinggal bekerja dengan kesungguhan agar hasil yang di ciptakan menjadi karya yang luar biasa.”

Sahabatku yang bahagia, Sahabat ResensiNet
Lebih sering dari pada tidak ketika kita merasa bahwa pekerjaan yang kita dapatkan itu lebih mudah dari kemampuan yang kita miliki, kita lebih sering menyepelekannya dan tak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Padahal semudah apapun pekerjaan yang kita lakukan, akan terasa sulit jika kita mengerjakannya tidak dengan kesungguhan begitupun sebaliknya. Ingatlah, bahaya terbesar untuk kita semua bukan karena pekerjaan kita terlalu sulit sehingga kita kesulitan mengerjakannya, tetapi karena pekerjaan kita terlalu mudah sehingga kita tidak sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Jadi, sudah selayaknya jika kita tidak ingin terjebak dalam bahaya terbesar dalam kehidupan yang disebut kegagalan, kita harus mengerjakan pekerjaan dengan ketulusan dan kesungguhan terlepas dari mudah atau susahnya pekerjaan yang akan kita kerjakan.

Semoga bermanfaat

Kisah Cinta Seorang Jutawan yang Luar Biasa!



 
Unic29.com - Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Namun ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- - Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat berhasil'.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi,
kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak,
dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak,
kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku. ..Jikalau perkimpoian dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis.

"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya...BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH". (sumber)