Friday, 3 August 2012

SI fakir yang thawadhu

Pada suatu hari Rasulullah saw duduk-duduk bersama seorang fakir miskin, lalu datang orang kaya menemuinya. Kebetulan dia tidak mendapat tempat lain, kecuali tempat di sebelah fakir miskin yang masih kosong. Namun kemudian dia menarik-narik ujung-ujung kainnya agar jangan sampai menyentuh pakaian dan badan si fakir miskin. Melihat tingkah laku yang demikian, rasulullah bertanya,”Kenapa kamu menarik-narik ujung-ujung kainmu? Apakah kamu khawatir kekayaanmu sampai menyentuh si fakir ini?”

Orang kaya itu benar-benar terpukul dengan teguran rasulullah, lalu katanya dengan nada menyesal,’Ya rasulullah, sebagai kifarat atas dosa-dosaku, aku akan memberikan setengah dari hartaku kepada orang fakir ini.”
Rasulullah bertanya kepada si fakir,”Ya abdallah, maukah kau menerima hibahnya?”
Namun si fakir menjawab,” tidak ya Rasulullah.”
Rasulullah bertanya dengan nada heran,” Mengapa?”
Dia menjawab,” Aku tidak ingin kaya ya Rasulullah. Aku takut menjadi sombong kepada makhluk Allah seperti yang tadi dilakukan orang ini.”

Tuesday, 31 July 2012

Bagaimana Mereka yang SUKSES menanggapi kesalahan dan Kegagalan, apakah Anda memiliki pandangan yang sama???


Belajar Dari Kesalahan DAN Bangkit Dari Kegagalan*

Oleh : Peri Irawan**


Sebagian besar dari kita menyikapi kesalahan dan kegagalan adalah sebagai sesuatu yang buruk. Karena dua hal tadi biasanya kita akan mendapatkan cemoohan bahkan terkadang ditinggalkan oleh orang-orang yang kita anggap sangat dekat dengan kita. Kesalahan dan kegagalan menjadi sebagai sesuatu yang buruk telah dikenalkan kepada kita bahkan sejak kita duduk di sekolah dasar dan atau bahkan mungkin di dalam keluarga kita sendiri. Beberapa diantara kita pernah mengalaminya, dahulu saat di sekolah dasar, ketika kita membuat kesalahan kita dimarahi, ditertawakan oleh teman bahkan terkadang diacuhkan atau yang paling parah kita disetrap oleh guru yang mengajarkan.


Berbeda dengan kegagalan, terkadang karena kegagalan kita divonis sebagai orang yang tidak berguna, dicap sebagai orang yang tolol dan bodoh. Saya melihat hal ini masih tejadi di sebagian masyarakat dan sistem pendidikan kita (disegala level SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi atau Akademi), seyogyanya kita perlu merubah kebiasaan tersebut, sudah bukan jamannya lagi metode-metode tersebut dipakai dalam menilai dan mengukur kemampuan seseorang serta menjadikannya bagian dari cara mendidik generasi-generasi penerus kita.

Para pembaca yang berbahagia dimana pun Anda berada. Paradigma atau cara memandang kita terhadap sebuah kesalahan dan kegagalan saat ini harus dirubah. Karena perlu dipahami oleh kita semua, bahwa saat ini pendidikan sudah menekankan kepada aspek kepribadian diri (yang meliputi kecerdasan emosional dan spiritual) selain kecerdasan/ intelegensia semata (IQ). Secara psikologis manusia berbeda-beda dalam menanggapi hal-hal yang terjadi kepada dirinya. Dalam hal menanggapi kesalahan dan kegagalan, ada mereka yang ketika dimarahi, dicemooh, direndahkan dan dikritik malah termotivasi untuk bangkit serta berusaha merubah keadaan menjadi lebih baik, tetapi orang-orang seperti mereka apabila dipuji justeru sebaliknya menanggapinya dengan biasa-biasa saja.

Dan sebaliknya ada mereka bisa menunjukan kemampuannya secara optimal saat hasil kerjanya dipuji dan diberikan penghargaan, tipe orang ini akan lebih termotivasi saat dipuji dan dihargai, sedangkan ketika mendapatkan kritikan, dimarahi, atau disalahkan dirinya akan merasa lemah, tertekan dan tidak berdaya sehingga dirinya mempercayai stigma negatif yang melekat dalam dirinya sebagai bagian dari kehidupannya. Para pendengar, oleh karena itu ketika kita hendak memberikan kritikan dan motivasi baik terhadap anak kita, bawahan maupun mitra dan rekan kita hendaknya kita perlu bijaksana dalam menilai karakter seseorang, apakah dia seseorang yang tertantang menerima kritikan atau tipe orang yang tidak toleran terhadap kritikan serta kesalahan, dan hanya bisa dimotivasi dengan penghargaan dan pujian?

Hindarilah oleh kita semua, kata-kata yang bisa menjadi belenggu mental seseorang, di saat seseorang tersebut melakukan kesalahan atau kegagalan. Kita harus melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar dan memandang kegagalan sebagai bagian dari kesuksesan. Para pembaca yang budiman, alamiahnya segala kehidupan kita adalah merupakan proses belajar yang panjang. Seperti kurva ”anak burung” yang ketika hendak belajar terbang, maka anak burung tersebut akan memulainya dengan coba-coba (trial and error), kemudian dia terjatuh, mencoba kembali sehingga dirinya dapat terbang seperti induknya yang sudah terrbang gagah di langit yang luas. Kurva belajar ”anak burung” mirip dengan huruf ’U’ memulai pangkalnya di atas kemudian menukik ke bawah kemudian ke atas lagi untuk sampai di ujungnya. Itulah proses belajar kita yang paling tepat dan sangat alamiah.

Para pembaca yang budiman dimanapun Anda berada. Kita bisa mendapatkan pelajaran lebih banyak saat kita banyak melakukan kesalahan. Karena kita memang pada dasarnya harus belajar dari kesalahan terlebih dahulu, masih ingatkah Anda saat pertama kali belajar mengendarai sepeda motor atau belajar menaiki sepeda biasa, awal-awalnya Anda akan kesulitan, mungkin akan terjatuh, mungkin menabrak pagar, atau bahkan mungkin masuk selokan? Segala sesuatu dapat terjadi kepada kita saat kita menjalani proses belajar.

Para pembaca yang terhormat, biasanya siapa yang tidak pernah berbuat kesalahan maka dia juga tidak pernah belajar (bertindak), atau siapapun yang jarang berbuat kesalahan maka dirinya pun biasanya jarang belajar, tentunya kesalahan bukan untuk diulang-ulang, kesalahan akan bisa disebut sebagai kesalahan apabila kita belum memahami obyek yang kita pelajari tersebut. Apabila kita masih berbuat kesalahan di tempat yang sama, maka kita perlu menginstropeksi diri, mungkin ada yang kurang pas di dalam diri kita. Pandanglah kesalahan sebagai tantangan dalam belajar.

Begitupun kesuksesan. Ada kata-kata bijak yang sangat saya sukai yang bunyinya antara lain sebagai berikut ;

”Kesuksesan adalah rangkaian kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan semangat untuk meraih keberhasilan.”

Hanya mereka yang pernah mengalami kegagalan yang dapat menghargai dan mengetahui betapa hebatnya kesuksesan. Kita bisa merasakan manisnya sukses apabila kita pernah merasakan pahitnya kegagalan. Jadi sekali lagi, pandanglah saat ini bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian daripada keberhasilan dan kesuksesan itu sendiri. Selama manusia masih berusaha meraih mimpi-mimpinya, meskipun sering terjatuh dan gagal apabila dia tetap berusaha bangkit dan tetap terus mencoba merealisasikan mimpi-mimpinya dia belum bisa dikatakan gagal, seseorang dapat dapat dikatakan gagal di mana saat orang tersebut menyerah dan enggan bangkit lagi dari kegagalannya.

Kesalahan dan kegagalan biasanya dimulai dari kelemahan diri. Oleh karena itu kita perlu menangani kelemahan diri kita dengan berbagai upaya, antara lain :

1. Memperkuat kemampuan diri di bidang yang paling kita lemah (contoh beladiri, sepak bola,
atau bidang lainnya).
2. Ciptakan sistem pendukung, gunakan banyak Sumber Daya yang ada di sekitar Kita
dan Talenta yang kita miliki.
3. Gunakan kekuatan lain untuk mengatasi kelemahan.
4. Temukan Mitra yang tepat.

Saat ini mereka yang sukses luar biasa dan terkenal adalah mereka-mereka yang dahulunya bukanlah siapa-siapa. Tahukah Anda bahwa pakar Manajemen Rhenald Kasali pernah gagal dalam akademis, dia pernah tidak naik kelas di kelas 5 sekolah dasar, sehingga kejadian tersebut merubah mentalnya dan menjadikannya orang yang hebat sebagai pakar Manajemen sekarang ini, Oprah Winfrey sejak kecil hidup di lingkungan yang serba sulit dan miskin, bahkan dirinya pernah mengalami pencabulan saat remaja oleh saudaranya sendiri, dan saat ini dirinya menjadi presenter terkaya di dunia dengan acara Oprah Winfrey Shownya serta maju bersama Perusahaan Harpo Production yang di bawah pimpinannya.

Thomas Alfa Edison pernah divonis oleh gurunya bahwa dia tidak pantas disekolahkan karena dia dianggap idiot dan aneh, bahkan kalau pun harus sekolah dia harus sekolahkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) waktu itu, saat ini kita mengetahui bahwa Thomas Alfa Edison adalan penemu dan inovator terbesar sepanjang sejarah manusia, hingga banyak penemuannya yang dipatenkan atas namanya, dan kisah orang-orang yang sukses lainnya, yang besar dan dikenang sepanjang masa karena mereka telah belajar dari kesalahan dan kegagalan yang pernah mereka hadapi. Sebagian besar dari mereka bahkan bersyukur pernah mengalami kesalahan dan kegagalan tersebut dalam kehidupan mereka.

Demikianlah para pembaca yang saya cintai dimanapun Anda berada, marilah kita rubah paradigma kita atau cara memandang kita terhadap kesalahan dan kegagalan yang negatif menjadi sebuah pengalaman positif. Hadapilah setiap kesalahan dan kegagalan dengan kebesaran jiwa, ambillah pelajaran tebaik darinya, agar kita lebih bijak dalam menyikapi kehidupan serta menjadikan hidup kita ke arah yang lebih baik, Terima kasih kepada para pendengar yang masih tetap setia di setiap tulisan pengembangan diri kali ini, semoga pembahasan kita pada kali ini bisa memberikan Anda para pembaca, manfaat, pencerahan dan inspirasi serta wawasan baru, sehingga Anda dapat bijaksana dalam menanggapi kesalahan dan kegagalan yang telah Anda buat dan yang akan Anda alami lagi selanjutnya, karena sekali lagi, hidup kita sejatinya adalah proses belajar, dimana kesalahan serta kegagalan adalah bagian dari belajar dan kesuksesan itu sendiri.

Salam Sukses, Salam Pembelajar dari saya Peri Irawan.

*) Bahan/wacana ini disampaikan dalam acara pengembangan diri pada hari Senin tanggal
22 Maret 2010 jam 20.00 s/d 21.00 WIB di radio RJFM 101,2 MHz.
**) Penulis adalah pengasuh web blog visionerpd.blogspot.com dan pembicara utama dalam
acara pengembangan diri di radio RJFM 101,2 MHz.

Sisi Positif dari Penderitaan

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?
Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.
Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.
Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kisah Nyata atau Dongeng?

Saya akan menceritakan beberapa kisah nyata dan saya jamin Anda akan merasakannnya sebagai sekedar dongeng. Bukan karena Anda tidak mempercayai saya atau sumber-sumber dari mana saya memperoleh kisah-kisah nyata itu; namun terutama karena kita hidup di zaman yang jauh lebih absurd dari dongeng. Atau karena kehidupan kita sudah sedemikian jauh meninggalkan norma-norma nyata dalam kehidupan kemanusiaan.
Baiklah saya mulai saja. Anda sudah siap mengikuti kisah-kisah saya? Inilah:
1. Suatu hari ada seorang tua miskin datang kepada Syeikh –kalau sekarang mungkin dipanggil kiai– Sa’id bin Salim, hendak menyampaikan sesuatu keperluan meminta tolong kepada tokoh masyarakat yang disegani itu. Seperti layaknya orang yang sudah tua renta, selama berbicara mengutarakan hajatnya, si orang tua miskin itu bersandarkan pada tongkat penopang ketuaannya. Dan tanpa disadari, ujung tongkatnya itu menghujam pada kaki syeikh Sa’id hingga berdarah-darah. Seperti tidak merasakan apa-apa, Syiekh Sa’id terus mendengarkan dengan penuh perhatian keluhan wong cilik itu.
Demikianlah; ketika orang tua itu sudah mendapatkan dari Syeikh apa yang ia perlukan dan pergi meninggalkan majlis, orang-orang yang dari tadi memendam keheranan pun serta-merta bertanya kepada Syeikh Sa’id: “Kenapa Syeikh diam saja, tidak menegur, ketika orang tua tadi menghujamkan tongkatnya di kaki Syeikh?”
“Kalian kan tahu sendiri, dia datang kepadaku untuk menyampaikan keperluannya;” jawab Syeikh Sa’id sambil tersenyum, “Kalau aku mengadu atau apalagi menegurnya, aku khawatir dia akan merasa bersalah dan tidak jadi menyampaikan hajatnya.”
Lihatlah. Bukankah kisah di atas bagaikan dongeng saja?! Mana ada pemimpin atau tokoh masyarakat yang begitu tinggi menempatkan keperluan orang yang memerlukan bantuan dalam perhatiannya? Kalau pun ada, mungkin untuk menemukannya bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami sekarang ini.
2. Syeikh Hasan Al-Bashari, siapa yang tak mengenal tokoh ulama dan sufi di penghujung abad pertama ini? Beliau tinggal bertetangga dengan seorang Nasrani. Apartemen si Nasrani di atas dan beliau di bawah. Bertahun-tahun mereka bertetangga, belum pernah si Nasrani datang bertandang ke apartemen Syeikh Hasan. Baru ketika Syeikh Hasan jatuh sakit, si Nasrani datang menjenguk.
Ketika menjenguk itulah, si Nasrani baru tahu betapa sederhana kehidupan Syeikh Hasan yang sangat terkenal kebesarannya itu. Tapi yang lebih menarik perhatian si Nasrani adalah adanya sebuah baskom berisi air keruh yang terletak di dekat bale-bale tempat tidur Syeikh Hasan. Apalagi ketika ada tetesan air jatuh tepat dari atas baskom. Spontan si Nasrani teringat kamar mandinya di atas. Dengan ragu-ragu si Nasrani pun bertanya: “Syeikh, ini baskom apa?’
“Ah baskom itu, sekedar penampung tetesan air;” jawab Syeikh wajar-wajar saja, “Setiap kali penuh baru saya buang.”
“Sudah berapa lama Syeikh melakukan ini?” tanya si Nasrani lagi dengan suara gemetar, “maksud saya menampung tetesan air dari atas ini?”
“Ya, kurang-lebih sudah dua puluh tahun;” jawab Syeikh kalem, “jadi sudah terbiasa.”
Mendengar itu, si Nasrani langsung menyatakan syahadat. Mengakui Tuhan dan Rasul-nya Syeikh Hasan Al-Bashari, Allah swt dan Nabi Muhammad saw.
Seperti dongeng bukan? Dimana kini Anda bisa menjumpai orang yang menjunjung tinggi ajaran menghormati tetangga seperti Hasan Al-Bashari itu?
3. Datang seseorang melarat kepada sang pemimpin mengeluhkan kondisinya yang sangat lapar. Sang pemimpin pun bertanya kepada isterinya kalau-kalau ada sesuatu yang dapat disuguhkan kepada tamunya. Ternyata di rumah sang pemimpin yang ada hanya air. Sang pemimpin pun bertanya kepada orang-orang di sekelilingnya, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini?”
“Saya;” kata seseorang. Lalu orang ini pun segera pulang ke rumahnya sendiri membawa tamunya.
“Saya membawa tamunya pemimpin kita, tolong sediakan makanan untuk menjamunya!” katanya kepada isterinya.
“Wah, sudah tidak ada makanan lagi, kecuali persediaan untuk anak-anak kita;” bisik sang isteri.
“Sibukkan mereka;” kata suaminya lirih, “kalau datang waktunya makan, usahakan mereka tidur. Nanti kalau si tamu akan masuk untuk makan, padamkan lampu dan kita pura-pura ikut makan, ya!”
Demikianlah keluarga itu menjalankan skenario kepala rumah tangganya. Dan mereka menahan lapar mereka sendiri hingga pagi.
Esok harinya sebelum laporan, sang pemimpin yang tidak lain adalah Rasulullah saw, sudah menyambut kepala rumah tangga –seorang shahabat Anshor– itu dengan tersenyum, sabdanya: “Allah takjub menyaksikan perlakuan kalian berdua terhadap tamu kalian semalan.”
Anda tahu kisah ini bukan dongeng, karena ini hadis muttafaq ‘alaih yang bersumber dari shahabat Abu Hurairah r.a. Tapi tetap saja kedengarannya seperti dongeng, bukan ?!
Tiga kisah itu hanyalah sekedar contoh, yang lainnya masih banyak lagi. Anda bisa dengan mudah menjumpainya di kitab-kitab Anda, di kitab suci Al-Quran, di kitab-kitab Hadis, dan kitab-kitab salaf pegangan kita yang lain. Hampir semuanya, bila Anda baca, Anda akan merasa seperti membaca contoh-contoh di atas. Merasa seperti membaca dongeng. Kalau benar demikian, bukankah ini pertanda bahwa kondisi kehidupan kita –masya Allah!—sudah semakin jauh saja dengan kondisi ideal seperti yang dicontohkan oleh Salafunaas Shaalihuun, para pemimpin dan pendahulu kita yang saleh-saleh.
Wallahu a’lam.
Semoga kita bisa mengambil hikmah dari membaca notes ini
Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda notes ini bermanfaat.

MELIHAT KEBAWAH PART 1 Siti, Bocah Yatim yang Tangguh…

Siti Bocah Yatim Tangguh: Jualan Bakso dengan Upah Rp. 2000,- Sehari
SEKARANG BUKAN WAKTUNYA UNTUK AFIKAAA, PSSIIII, KPSSII, POLISI GANTENG ATAU DARSEM… SEKARANG WAKTUNYA UNTUK…
SITIIII…BOCAH PENJUAL BAKSO
Siti Bocah Yatim Tangguh
Sore kemarin – Selasa, 06 Maret 2012 – saya pulang kantor rada “tenggo”, jadi sampai di rumah jam 17.30-an, saya sempat nonton acara “Orang-Orang Pinggiran” di Trans7. Dada saya sesak menyaksikannya, air mata saya meleleh tanpa bisa ditahan, tak mampu berkata-kata. Siti, seorang bocah yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia 2 tahun. Kini Siti berumur 7 tahun. Sehari-hari sepulang sekolah Siti masih harus berkeliling kampung menjajakan bakso. Karena ia masih anak-anak, tentu belum bisa mendorong rombong bakso. Jadi bakso dan kuahnya dimasukkan dalam termos nasi yang sebenarnya terlalu besar untuk anak seusianya. Termos seukuran itu berisi kuah tentu sangat berat.
Tangan kanan menenteng termos, tangan kiri menenteng ember plastik hitam berisi mangkok-mangkok, sendok kuah, dan peralatan lain. Dengan terseok-seok menenteng beban seberat itu, Siti harus berjalan keluar masuk kampung, terkadang jalanannya menanjak naik. Kalau ada pembeli, Siti akan meracik baksonya di mangkok yang diletakkan di lantai. Maklum ia tak punya meja. Terkadang jika ada anak yang membeli baksonya, Siti ingin bisa ikut mencicipi. Tapi ia terpaksa hanya menelan ludah, menahan keinginan itu. Setelah 4 jam berkeliling, ia mendapat upah 2000 perak saja! Kalau baksonya tak habis, upahnya hanya Rp. 1000,- saja. Lembaran seribuan lusuh berkali-kali digulung-gulungnya.
Sampai di rumah, Siti tak mendapati siapapun. Ibunya jadi buruh mencangkul lumpur di sawah milik orang lain. Tak setiap hari ia mendapat upah uang tunai. Terkadang ia hanya dijanjikan jika kelak panenan berhasil ia akan mendapatkan bagi hasilnya. Setiap hari kaki Ibunda Siti berlumur lumpur sampai setinggi paha. Ia hanya bisa berharap kelak panenan benar-benar berhasil agar bisa mendapat bayaran.
Hari itu Siti ingin bisa makan kangkung. Ia pergi ke rumah tetangganya, mengetuk pintu dan meminta ijin agar boleh mengambil kangkung. Meski sebenarnya Siti bisa saja langsung memetiknya, tapi ia selalu ingat pesan Ibunya untuk selalu minta ijin dulu pada pemiliknya. Setelah diijinkan, Siti langsung berkubang di empang untuk memetik kangkung, sebatas kebutuhannya bersama Ibunya. Petang hari Ibunya pulang. Siti menyerahkan 2000 perak yang didapatnya. Ia bangga bisa membantu Ibunya. Lalu Ibunya memasak kangkung hanya dengan garam. Berdua mereka makan di atas piring seng tua, sepiring nasi tak penuh sepiring, dimakan berdua hanya dengan kangkung dan garam. Bahkan ikan asin pun tak terbeli, kata Ibunda Siti.
Bayangkan, anak sekecil itu, pulang sekolah menenteng beban berat keliling kampung, tiba di rumah tak ada makanan. Kondisi rumahnya pun hanya sepetak ruangan berdinding kayu lapuk, atapnya bocor sana-sini. Sama sekali tak layak disebut rumah. Dengan kondisi kelelahan, dia kesepian sendiri menunggu Ibunya pulang hingga petang hari.
Sering Siti mengatakan dirinya kangen ayahnya. Ketika anak-anak lain di kampung mendapat kiriman uang dari ayah mereka yang bekerja di kota, Siti suka bertanya kapan ia dapat kiriman. Tapi kini Siti sudah paham bahwa ayahnya sudah wafat. Ia sering mengajak Ibunya ke makam ayahnya, berdoa disana. Makam ayahnya tak bernisan, tak ada uang pembeli nisan. Hanya sebatang kelapa penanda itu makam ayah Siti. Dengan rajin Siti menyapu sampah yang nyaris menutupi makam ayahnya. Disanalah Siti bersama Ibunya sering menangis sembari memanjatkan doa. Dalam doanya Siti selalu memohon agar dberi kesehatan supaya bisa tetap sekolah dan mengaji. Keinginan Siti sederhana saja : bisa beli sepatu dan tas untuk dipakai sekolah sebab miliknya sudah rusak.
Kepikiran dengan konsidi Siti, dini hari terbangun dari tidur saya buka internet dan search situs Trans7 khususnya acara Orang-Orang Pinggiran. Akhirnya saya dapatkan alamat Siti di Kampung Cipendeuy, Desa Cibereum, Cilangkahan, Banten dan nomor contact person Pak Tono 0858 1378 8136.
Usai sholat Subuh saya hubungi Pak Tono, meski agak sulit bisa tersambung. Beliau tinggal sekitar 50 km jauhnya dari kampung Siti. Pak Tono-lah yang menghubungi Trans7 agar mengangkat kisah hidup Siti di acara OOP. Menurut keterangan Pak Tono, keluarga itu memang sangat miskin, Ibunda Siti tak punya KTP. Pantas saja dia tak terjangkau bantuan resmi Pemerintah yang selalu mengedepankan persyaratan legalitas formal ketimbang fakta kemiskinan itu sendiri. Pak Tono bersedia menjemput saya di Malimping, lalu bersama-sama menuju rumah Siti, jika kita mau memberikan bantuan. Pak Tono berpesan jangan bawa mobil sedan sebab tak bakal bisa masuk dengan medan jalan yang berat.
Saya pun lalu menghubungi Rumah Zakat kota Cilegon. Saya meminta pihak Rumah Zakat sebagai aksi “tanggap darurat” agar bisa menyalurkan kornet Super Qurban agar Siti dan Ibunya bisa makan daging, setidaknya menyelematkan mereka dari ancaman gizi buruk. Dari obrolan saya dengan Pengurus Rumah Zakat, saya sampaikan keinginan saya untuk memberi Siti dan Ibunya “kail”. Memberi “ikan” untuk tahap awal boleh-boleh saja, tapi memberdayakan Ibunda Siti agar bisa mandiri secara ekonomi tentunya akan lebih bermanfaat untuk jangka panjang. Saya berpikir alangkah baiknya memberi modal pada Ibunda Siti untuk berjualan makanan dan buka warung bakso, agar kedua ibu dan anak itu tidak terpisah seharian. Siti juga tak perlu berlelah-lelah seharian, dia bisa bantu Ibunya berjualan sambil belajar.
Mengingat untuk memberi “kail” tentu butuh dana tak sedikit, pagi ini saya menulis kisah Siti dan memforward ke grup-grup BBM yang ada di kontak BB saya. Juga melalui Facebook. Alhamdulillah sudah ada beberapa respon positif dari beberapa teman saya. Bahkan ada yang sudah tak sabar ingin segera diajak ke Malimping untuk menemui Siti dan memeluknya. Bukan hanya bantuan berupa uang yang saya kumpulkan, tapi jika ada teman-teman yang punya putri berusia 7-8 tahun, biasanya bajunya cepat sesak meski masih bagus, alangkah bermanfaat kalau diberikan pada Siti.
Adapula teman yang menawarkan jadi orang tua asuh Siti dan mengajak Siti dan Ibunya tinggal di rumahnya. Semua itu akan saya sampaikan kepada Pak Tono dan Ibunda Siti kalau saya bertemu nanti. Saya menulis artikel ini bukan ingin menjadikan Siti seperti Darsem, TKW yang jadi milyarder mendadak dan kemudian bermewah-mewah dengan uang sumbangan donatur pemirsa TV sehingga pemirsa akhirnya mensomasi Darsem. Jika permasalahan Siti telah teratasi kelak, uang yang terkumpul akan saya minta kepada Rumah Zakat untuk disalurkan kepada Siti-Siti lain yang saya yakin jumlahnya ada beberapa di sekitar kampung Siti.
Mengetuk hati penguasa formal, mungkin sudah tak banyak membantu. Saya menulis shout kepada Ibu Atut sebagai “Ratu” penguasa Banten ketika kejadian jembatan ala Indiana Jones terekspose, tapi toh tak ada respon. Di media massa juga tak ada tanggapan dari Gubernur Banten meski kisah itu sudah masuk pemberitaan media massa internasional. Tapi dengan melalui grup BBM, Facebook dan Kompasiana, saya yakin masih ada orang-rang yang terketuk hatinya untuk berbagi dan menolong. Berikut saya tampilkan foto-foto Siti yang saya ambil dari FB Orang-Orang Pinggiran. Semoga menyentuh hati nurani kita semua
 “Based on True Story”

(http://virouz007.wordpress.com)